Sabtu, 22 September 2007

MASJID AGUNG JAWA TENGAH

MAJT

“Sucining guna gapuraning gusti.” Itulah candra sengkala pembangunan Masjid Agung Jateng (MAJ), yang sama dengan tahun 1934 Saka.

Artinya, kemauan dan upaya yang tulus membawa ke arah rida Allah.

MENARA Asmaul Husna, yang berdiri kokoh di sudut barat daya Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) merupakan salah satu daya tarik kawasan itu. Dari bentuknya, bangunan setinggi 99 meter—yang melambangkan nama-nama Allah itu—dikonsep sebagai replika Menara Kudus. Sejak menara itu selesai dibangun, banyak pengunjung yang datang untuk sekadar melihat atau berfoto bersama. Lihatlah, seorang ibu dan dua anaknya yang tengah berpose laiknya model, di depan menara itu.

Sementara, si bapak nampak sibuk mengarahkan kamera-nya untuk menentukan posisi gambar. Kadang-kadang dia sampai berjongkok agar menara itu bisa menjadi background foto keluarganya. Sudah lama kami mendengar tentang kemegahan dan keindahan MAJT. Baru kali ini, kami melihatnya secara langsung. Ya, sekalian mengenalkan anak pada masjid supaya mereka bisa lebih dekat,’’ tutur Muslih (39), warga Gombong, Kebumen itu. Dia datang untuk menyambangi keluarga yang tinggal di Semarang. Senyampang anak-anak tengah libur sekolah, mereka diajaknya serta. Nah, setelah kegiatan keluarga rampung, mereka menyempatkan diri mampir berwisata ke MAJT. Tadi juga sudah naik ke menara. Enak, bisa lihat-lihat kota dari atas,’’ timpal Endika (12), anak sulung Muslih. Untuk bisa naik ke menara, mereka cukup membayar Rp 2.000 per orang.

Di atas menara tersedia sejumlah teropong untuk melihat Kota Semarang dari ketinggian. Teropong itu bisa dioperasikan jika pengunjung memasukkan koin. Cukup dengan Rp 1.000 mereka bisa menikmati teropong itu selama 1,5 menit. Sekadar informasi, penara yang terdiri atas 20 lantai itu rencananya digunakan untuk museum Islam dan lantai berputar (devolving floor). Lantai paling atas dapat digunakan melihat hilal, penentuan awal Ramadan atau Idul Fitri. Akulturasi Budaya MAJT yang terletak di Jl Gajahraya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari itu memang telah menjelma sebagai tempat wisata alternatif, yang kental dengan nuansa religi di dalamnya. Konsep bangunan yang menggabungkan arsitektur Jawa, Islam, dan Roma itu merupakan pemikat bagi pengunjung yang datang Daya tarik lainnya, berbagai memorabilia yang terkait dengan syiar Islam. Yang sudah ada sekarang, Alquran raksasa tulisan tangan yang merupakan karya H Hayatuddin, khattat (penulis kaligrafi) dari Universitas Sains dan Ilmu Alquran (Unsyiq) Jateng di Wonosobo. Selain itu, ada pula replika beduk raksasa Purworejo, yang dibuat oleh para santri Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas. MAJT dibangun pada lahan banda Masjid Kauman seluas 10 hektare, dengan luas bangunan hanya 27.900 meter persegi. Kompleks MAJT itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai sarana sosial dan bisnis, seperti ruang perkantoran, convention hall, penginapan, dan bangunan kios. Bangunan masjid tak menunjukkan kesan mewah, tapi dapat menampung hingga 13.000 umat. Dibandingkan bangunan pendampingnya, bangunan masjid lebih sederhana namun memberi kesan teduh. Pemilihan warna maupun penataan interior masjid dirancang dengan cermat. Rancangan bentuk dan hiasan di dalam masjid didominasi pengaruh dua budaya, Jawa dan Islam. Bentuk kubah, lengkungan, geometri bintang delapan, dan kaligrafi mencerminkan budaya Islam.

Budaya Jawa diwujudkan dalam pemilihan ragam hias. Wayang kulit purwa dan batik menghiasi beberapa bagian masjid. Tepat di bagian tengah masjid terdapat empat tiang. Semua tiang itu dihubungkan dengan lengkungan berwarna putih yang diilhami dari gaya Andalusia. Dasar dari empat tiang itu dihiasi berbagai bentuk ragam hias batik, seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan. Kesan teduh dan sederhana dihasilkan dari pemilihan warna di bagian dalam masjid. Tiang di langit-langit masjid dan pintu kayu dicat warna hijau. Pintu itu mirip pintu di rumah Jawa, memiliki lubang sehingga angin leluasa keluar masuk. Selain hijau, warna yang mendominasi adalah putih, cokelat, dan krem. Sebagian langit-langit yang berhiaskan bentuk geometri bersegi delapan berwarna krem. Puncak kubah berwarna putih, rencananya akan dihiasi dengan kalimat "Laa ilaaha illallah" dari bahan tembaga. Leher kubah masjid dihiasi kaligrafi surat An Nuur Ayat 35. Konsep Masjid Agung Raya Jateng mengusung paduan budaya Islam dan Jawa. Ciri pertama yang menunjukkan hal itu adalah bentuk atap. Atap masjid berbentuk tajuk, khas masjid Jawa, seperti yang ditemukan di Masjid Agung Demak.

Konsep tajuk itu digabungkan dengan kubah dan minaret, ciri khas masjid pada umumnya. Sementara itu, di plaza depan masjid akan dipasang enam payung berdiameter 48 meter, seperti dilakukan di Masjid Nabawi, Madinah. Ini untuk melindungi jamaah dari sengatan panas matahari.

BATURRADEN TOURISM PARK

HISTORY OF BATURADEN

Story or history related to name of Baturaden there is two version, that is version of Kadipaten Kutaliman and version of Sheikh Maulana Maghribi.

Baturaden come from two word that is ‘Batur’ which in Ianguage of Java mean Assistant, Hill or Friend and ‘Raden’ which in Ianguage also mean Nob. Seen from its words formation, the name of Baturaden consist of word :

a. Batur - Radin, with the meaning plain

b. Batur - Adi, with the meaning beautiful land; ground

Two kinds of the name non something name of selfsupporting without there is its bearing with other region as long as mountain side of Slamet of west direction easterly until Diengplateau (plateau of Dieng). About/Around Baturaden also there are some name of early with word ‘Batur’, like Batur Agung, Batur Golek, Batur Semende, Batur Sengkala, Batur Macan, Batur Duwur, Batur Wadas Galengan and of Batur Begalan.


Kadipaten Kutaliman Version

At hundreds of year ago it is said there are a Kadipaten ‘Kutaliman’ located 10 km westside Baturaden. Its Duke have some daughter and a gamel (ministrant which take care of horse). One of the its daughter fall in love with gamel. Their love is done behind back. After hearing news, that its daughter fall in love with its assistant, the angry Duke and dissipate gamel and daughter from home. Journey of him bear baby at elbow river, later; then they name river of Kaliputra. (Kali; its mean River and of Putra mean boy). Its situation about three kilometre Northside Kutaliman. Finally they find beautiful place and set mind on to live in place which is now recognized by the name of ‘Baturaden’. Pursuant to the first version come from word ‘Batur’ and ‘Raden’ becoming ‘BATURRADEN’.

Sheikh Maulana Maghribi Version

It is said in Rum state have, throne to so called Prince of Sheikh Maulana Maghribi come from Turki embracing him and Islam is a moslem scholar. At break of day rise, after he doing its obligation as moslem people, seen by mysterious light he shine eastside boost high in space. Impel by feeling wish to know place where from that mysterious light come and mean from light, hence arising and intention of mean strong in its feeling and look for such place. A its so called friend of Haji Datuk called and commanded so that all hulubalang and its its his prepare armada with all its supply to bear up for up at coming of mysterious light. Hence, leaving the Prince together with its friend 298 (with two hundreds ninety eight) its follower people ford ocean head for seen of that light shine during 40 night.

Later; then until eastern most them a so called island of Java. As for place where them throw away famous anchor these days by the name of Coast of Gresik. Though they have old go through journey full of grief and difficulties and also face all kinds dangerous, they not yet reached what becoming aspiration or target him because the mysterious light see west side. At one time seen again light that is searching of west side and they take decision return up at west by going through road; street in Java sea in coast of Pemalang Central Java, where them anchor at the same time simply releasing fatigue. This place Sheikh of Maulana Maghribi ask all its armada to go come home to its country, while Sheikh of Maulana Maghribi accompanied by Haji Datuk and temporarily live on the ground.

Because them have trust to the God, they is soul head by occult strength which the no extinct visit and decision of liver will continue its journey by way of foot/feet head for South at the same time propagate Islam. Of their southwards Pemalang fringe wilderness without recognizing faced danger it because interesting mysterious light ray which now seen in the East go out to sea. Linking that gone through band it tire out, hence them stop over to discharge its fatigue at the same time plung in thought to feel its journey story and also its burdensome obligation on the shoulder to overspread Islam. Place where them rest in a condition of minds (feelings and planning) fulfilling its heartstrings is called ‘Paduraksa’ with the meaning quarreling in a heart or feel.

From that place they continue its journey to south again and until they are bush in forest and to discharge its fatigue of them stop by above bollard of randu which fall down and place they give name ‘Randudongkal’. Its place of him, light still looked to be in north-east and they continue its, him go to mentioned light direction. And before them until to the place becoming its target of them stop for rested elbow in sendang (pool) to conduct religious service of Sholat and after the place called ‘Belik’. Having taken steps of Sholat, hence journey distribute to east direction and until an place where there are a lot of amethyst and the in place they rest again at the same time think of they how to earn to reach place domicile light which the light searching because of seen at the top of Mount. Place where them rest and there are a lot of that amethyst is called ‘Watu Kumpul’.

Because its strong intention, that climb done till finally until they in place gone to. seen by them a hermit leaning x'self at one tree of Jambu releasing light glittering to boost high to space. Slow Sheikh Maulana Maghribi and Haji Datuk of going to the place atthe same time and say ‘Assalamu'Alaikum’, but is unanswered of him by the ascetic though berulangkali said. After in the reality its greeting do not get answer, hence Haji Datuk say at Sheikh Maulana Maghribi. ‘Presumably that hermit is a Budha’. Hearing the word, the that ascetic then answer : ‘In fact I a Miraculous Budha'. Hearing miraculous words hence Sheikh of Maulana Maghribi apply to followed religion of Budha mentioned, that he wish to see or witness its miracle, hence taken its head cover which in the form of that cap can fly in space. Sheikh of Maulana Magribi pertained one who have miracle and pushed by feeling to wish to make balance to miracle the that hermit, then discharge its clothes and thrown to to the, in the reality the clothes can fly on the air and always close over cap the hermit designating that its miracle more pre-eminent of miracle of that Budhism, but he not yet will surender and still will look on again its extant cleverness compile sky-high egg. See the the situation above Sheikh of Maulana Magribi surprise, but that way he do not want to be defeated off hand, hence quietly commanded to the hermit expecting him to will take that egg one by one from under without there is which fall. In the reality that hermit do not ready to conduct him, because the hermit have really do not conduct the mentioned, Sheikh Maulana Maghribi take mentioned egg heap started from under till finish without there is no one which fall.

Sheikh Maulana Maghribi still feel satisfied and still continue its struggle again by showing fertilization of pots contain water boost highly is. At last, Sheikh Maulana Maghribi say : 'Take that pots one after another from under without falled there'. After in the reality there no readyness from the hermit, hence he alone doing it and that last pot break and its water shine to all angle.

Finally the hermit confessing 'Jambu Karang' (the name come from its arm rest tree, that is one tree of jambu where around him there are amethyst) knuckling under and also promise to to embrace Islam. The promise accepted by Sheikh Maulan Maghribi and of Jambu Karang commanded to get a haircut and its nail and hereinafter buried in ‘Penungkulan’ (place where the hermit knuckle under). At later; then done by hallowing ceremony with water of zam-zam brought by Haji Datuk of Holy Land; Ground of comand of Sheikh Maulana Maghribi by utilizing place of bamboo (roof). After hallowing ceremony finish, roof comprise the rest of water leaned at tree of waru, remain to because less careful leaning him hence crumpling mentioned roof and break so that irrigate the remains interspersed and the in place it is said people say becoming wellspring which do not know to run dry season.

After hermit in sanctifiesing to be a Islam, hence its name is turned into 'Sheikh Jambu Karang’. Later; then Sheikh Jambu Karang will get wejangan (ba'it), he show an compatible place and suited for ceremony of ba'it the that is above hill 'Kraton'. Momentary after Sheikh Jambu Karang accept wejangan, go down torrential rains accompanied with storm resulting trees around that place subdue its boughs like is respecting Mount of Kraton that is place where Sheikh Maulana Maghribi is giving wejangan Sheikh Jambu Karang (membai'at) become a Moslem. According to its saga, Sheikh Jambu Karang have a daughter called 'Rubiah Bhakti''Atas Angin’. Of its marriage degrade five boys and girls people, that is : married by Sheikh Maulana Maghribi, after Sheikh Jambu Karang become a Moslem with dowry in the form of gold from land of jawa. After wife of daughter Sheikh of Jambu Karang, Sheikh Maulana Maghribi have change name become

1. Makdum Kusen (mausoleum in Rajawana)

2. Makdum Medem (mausoleum di Cirebon)

3. Makdum Umar (mausoleum diKarimun Java)

4. Makdum (disappearing or murca)

5. Makdum Sekar (mausoleum in Mount of Jembangan)

Sheikh Jambu Karang remain to live in Mount of Kraton and after pass awaying to be buried and its funeral place is referred as 'Gunung Munggul' (highest top in that area).

Sheikh Maulana Maghribi famous with 'Mbah Atas Angin' during fourty five year live somewhere or so called hamlet 'Banjar Cahayana' (possible the place in inhabited after finding its light). Place of Mbah Atas Angin suffer from pruritis which is hard to be healed. This matter generate concern accompanied pleadingly to God so that given by blessing and also benediction protected from its disease.

After Sholat Tahajud, he get Idea that he have to go to mount ‘Gora’ where is will get sure cure to heal its disease. Later; then time in the morning of Shubuh Mbah Atas Angin with Haji Datuk go up at daytime and west until they are in mountainside of Gora. After reaching mountainside of Gora his ask Haji Datuk to leaving him and rest at the same time await in place which level off, because Mbah Atas Angin will continue its road; street up at an place which smoke condensing. In the reality there is source of hot water and Sheikh Maulana Maghribi beginning of mention it 'Pancuran Pitu' with the meaning a hot water which have seven wellspring. Every day Sheikh Maulana Maghribi take a bath regularly on the ground, that way he get over itchy disease of him. After he climb prayer thank goodness and also say thanks of him he have been bestowed to get over illness which have suffering of. After he return peaceful to the place of Haji Datuk await, he say : Witness, I now quite better from my pain and have protected from grief. Here in after he is Mount change name of Gora that become 'Gunung Slamet'. Slamet in Javanese mean peacefully. During Sheikh Maulana Maghribi medicinize in Pancuran Pitu, Haji Datuk remain to and meekly await in place which showed initialy and it is to nicknamed 'Haji Datuk Rusuladi'. Rusuladi its mean 'Batur yang baik' (Adi), and it is said people say the place by its people around is now a days referred as with 'BATURRADEN'.

BATURRADEN TOUR PLACE GEOGRAPHICAL POSITION

Baturraden known as tourism place or health resort of mountain since year 1928 owning cold atmosphere and tend to very cool with temperature 18°C-25°C. Baturraden located in side hillside south of Slamet with height 3.428 metres, representing mount have biggest fire and also the second highest mount in Java. Baturraden lay in height about 640 metres above sea level and apart only 14 km of downtown of Purwokerto attributed to adequate road. To reach garden of Baturraden tour place which located in Banyumas can use land transportation able to be conducted with various land transport : Train, Bus Between Province, Connective Town Intercity Bus in all Java especially the target of Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, Yogyakarta, Semarang.

Purwokerto town represent capital of regency of Banyumas, Central Java. Sub-Province Regional Banyumas located in westside and represent the part of Province Central Java. Located in between east meridian 180° 39' 17" until 109° 27' 15" and among south latitude 7° 37' 10" meaning to reside in south cleft mark with lines equator.

Upstate Banyumas Sub-Province, namely Brebes Sub-Province, non irigated dry field, Pemalang, and Purbalingga, representing mountain area representing tip of North Serayu Hill. Highest Top ofis Slamet Mountain (3.428 metres dpl), beside there are other top like Kucing Mount I (1.520 metres) and Manis I Mount (2.163 metres). Hilly which there are part of west represent lengthening of Depresi Bandung in West Java. While mountain which there are southeast tip of west of South Serayu Hill, with its top Jampang Mountain (809 metres) in frontier with Banjarnegara Sub-Province.

Wide of Banyumas Sub-Province region about 1.327,60 km2 or equivalent by 132.759,56 ha. Boundary Banyumas Sub-Province, that is :

1. North : Slamet mount, Tegal Sub-Province and pemalang Sub-Province
2. South : Cilacap Sub-Province
3. West : Cilacap Sub-Province and Brebes Sub-Province
4. East : Purbalingga Sub-Province, Kebumen Sub-Province and Banjarnegara Sub-Province.

Location : Baturraden Tour Place

Lengger Sculpture

This sculpture depict dance of Lengger played by woman and man dancer (kakang - mbekayu). This dance is generally conducted onstage and accompanied by calung castanets.


Child Toy

Mini Cart


Pool Glide


Komidi Putar


Bath Ball


Kaloka Widya Mandala

Kaloka Widya Mandala Baturraden Park or Wisata Pendidikan Wanasuka Baturraden represent zoo at the same time as place of education tourism opened by Regent Regional Leader Mount II Banyumas H. Djoko Sudantoko on May 17, 1995. This place have got achievement that is Visit Indonesia Decade 1991 - 2000, Enthronement Tourism Award of Central Java and Daerah Istimewa Yogyakarta in Semarang on August 23, 1996.

In Kaloka Widya Mandala Baturraden Park is assorted of animal coming from within and also abroad like : Australa, Asian and Holand. Like : Ox Cloister, Goat three feet, Elephant, (Buing), Irian Crocodile, Python, Kaswari, Monkey, Porcupine, Iguana, Cendrawasih, Bat, Bantam, Guinea Fowl, Orang Utan, Hawk Bondol, Deer. In this place also have Scarce Museum Animal, like : Sumatra Tiger, Bear Honey, and Tiger Bough.


Satria Cultural Podium

This podium represent place to demonstrate artistry exist in Baturraden nymph of music, dance and others


Monument 10

This monument represent monument in memory and respect sacrifice and devotion ten Brigade XVII, that is Darsono, Kusdarto, Utoyo, Abd. Mutholib, Djumerut, Mulyono, Sutoyo, Oloan Nasution, Kakeat Kusumo and Sukisno.


Gumawang River Waterfall

This waterfall located in Baturraden tour place steming from Slamet mountain with amethyst eroded by water which still experience


Botany Garden

Botany garden which located in Baturraden tour place represent place providing is multifarious of decorative plant, plant dwarf at the price of which reached as souvenir to all tourist, for example : Havana, Dewa Leaf, Brimulia, Keladi Tikus, Antarium Lipstick, Paris Palm, Tongue Elephant and Widoro Sea.


Petilasan or Baturraden Mausoleum

Petilasan located in Baturraden tour place representing ommission of mausoleum which until now assumed scared by Baturraden society.


Bicycle Water


Swimming Pool


Kamandaka Relief


Curug Gumawang


Dewi Ciptoroso and Prabu Pulebahas Sculpture

Location : Eastside Baturraden Tour Place

Telaga Sunyi

Telaga Sunyi located more or less 3,5 km in eastside Baturraden tour place. This recreation place present beautiful lake, having water to be chilled and very clear. At certain seasons can meet colourfully of dragonfly and butterfly which flying around lake.


Earth Encampment (Bumper)

Encampment earth of is including area of wanawisata located 2 km of Baturraden tour place. Wanawisata represent a location of presenting beautiful view of close green forest enough. This place represent very place suited for activity camp and tracking jungle. Also can enjoy by beauty natural forest provided with encampment able to accomodate 1000 tent. In this place also there are plant seed and preserve produce like fir tree, pine and others.


Location : Northside Baturraden Tour Place

Pancuran Pitu

Located 2,5 km of Baturraden tour place. Pancuran Pitu representing the source hot water of earth with temperature 60° - 70°C which is direct beam of hillside of Slamet mountain though Pancuran Pitu emit a stream wide of carpet forming brimstone bank with golden colour to Goa Sarabadak.


Goa Sarabadak

Tourist can enjoy freshness by cool and warm water in Goa Sarabadak, with golden colour stoney which amaze. That Goa represent meeting of located hot and cool water southside Pancuran Pitu.


Pancuran Telu

Pancuran Telu opened on 18 January 1987. This douche represent the source of pregnant hot water of brimstone with temperature 40°C. Besides its warm feeling also to overcome various skin disease and bone.


Panembahan or Petilasan Mbah Tapa Angin

Petilasan represent ommission of Mbah Tapa Angin which located in bevel of Slamet mountain nearby Pancuran Telu, assumed sacred by society with an evidence people of certain area at Monday night Kliwon and Friday night Kliwon have pilgrimage to more unique and the place of him again that is north area with still dress complete pass off its touring in Baturraden (Kirab).


Pool Bath Soak

Its location nearby Pancuran Telu, hence this pool also represent the source of pregnant hot water of brimstone with deepness 50 centimeter.


Location : Contrivance West of Baturraden Tour Place


Curug Gede

Located in countryside of Ketenger tour place, more or less 3 km of Baturraden tour place. In this place tourist can enjoy waterfall with natural beauty and stone plate.


Barricade DAM

Its situation in countryside of Ketenger tour place nearby Curug Gede. Barricade DAM Japan made in 1943 and renovated in 1999

PACKAGE of WISATA

Package of Wisata represent type of wisata residing in Baturraden managed by , PT. Natural Perhutani of Wisata (PALAWI), Unit work Baturraden which is have address in Road; Street Earth Encampment of Baturraden, Kemutug Lor, Baturraden, Sub-Province of Banyumas.

Package of Wisata, for example :

1.Cultural Wisata

Baturraden represent center culture of society of Banyumas with its. That Cultural Wisata for example : Grebeg Suran, Kenthongan and others.
2.Agro Wisata Serang

Agro Wisata Attack to represent agriculture wisata which located in eastside Baturraden lokawisata. Agro Wisata attack to represent alternative of berwisata to all tourist like : energy kindness of strawberry, radish energy kindness and fruit energy kindness of belimbing
3. Rural Wisata

In this place tourist invited to walk to trace footpath for beautiful enjoying of rural natural him with all aktifitas which still experience of by staying with genuiness of Banyumasan, like : traditional artistry in countryside of Ketenger, tapping nira, harvesting and others.
4. Wisata Education

This Wisata represent recognition of environment in area region of wanawisata Baturraden. Tourist join in in study directly in ranch area like : dairy cattle energy kindness, plowing up, shepherd parrot and plantation.
5. Package of Outbond

PT. PALAWI Unit work Baturraden in this time provide facility of Outbond Training Service and residing in area of wanawisata Baturraden. The Activity below/under experienced instructor tuition in and abroad with adequate facility and also open natural location which challange make Wanawisata Outbond Centre Service choice and of yng precise for the activity of Outbond.

This available activity various choice covering :

a. Outbond Kids, like : Flying Fox, Two Lino Bridge.
b. Fun Gamete, like : Every Body Up, Trust Fall, Sherpa Walk, Flying Fox, Raft Building, Stepping Stone, Tower Building, The Meuze, and Menggapai Star.
c. Outing
d. Family Gathering
e. Total of Outbond
6.

Package of Tracking


Package of Tracking very compatible to tourist which like to venture on to enjoy natural beauty.


CULTURAL AND ARTISTIC IN BATURRADEN

Grebeg Sura or Sedekah Bumi

Ceremony of Suran that is traditional ceremony executed earth alms at Syura 9 for the purpose of Tolak Bala by all kinds of like ruwat bumi, traditional ceremony party in ancestor mausoleum and others. Usually preceded with procession of kirap land product in the form of tapioca, rice, corn, and others, equiped also with tumpeng Panca Warna, Sanggabuana, Robyong and Kuat, after tumpeng besieged (mess together).


Kenthongan

Kenthongan represent artistry of typical music of spread over in almost of Banyumas area. Kenthongan or tek-tek is made castanets of bamboo. Kenthong is appliance the core important, in the form of given by bamboo cutting is long hole side and played with beated with short wood stick. Kenthongan played in group which consist of 20 people and provided with bedug, flute, kecrek and led by mayoret. In one kenthongan grup, Kenthong weared by some kinds of yield harmonic sound.


Calung and Lengger

Calung is made castanets of athwart put down cutting bamboo and played by beated, consist of barung gambang, router gambang, dhendhem, kenong, and gong and kendang.

Lengger represent dance played by two women or more accompanied by calung. The middle of demonstrate to attend a dancer of men referred by badhud (clown / bodor).


Clothes Custom of Banyumas

Banyumas have traditional clothes very typically. At circle of wong cilik met by clothes like lancingan, wala bebed, pinjungan, iketan, nempean and others. As for at priyayi circle met by clothes of Beskap for the clan of man while Nyamping for the clan of woman.


Decorative Exhibition Plant

This exhibition represent additional exhibition which performed in Baturraden park tour place because execution time is not certain. Decorative exhibition plant with kinds of plant type, like plant of Havana, Dewa leaf, Palm of Paris and others.

Ebeg (Kuda Lumping)

Ebeg is traditional dance form typically Banyumas with especial property in the form of ebeg or kuda kepang. This artistry depict gallantry of cavalier with all its attraction and brought by 8 dancer man. In the demonstrate of ebeg accompanied by gamelan called bendhe.

Sadranan

Sadranan is clean procession of continued grave with kenduren. Sadranan is an ceremony form recall ancestor late by cleaning its mausoleum before execution of fasting in Ramadhan. In Baturraden activity usually conducted by mausoleum of Petilasan.

TAMAN WISATA BATURADEN

Baturaden adalah sebuah tujuan wisata di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Baturaden terletak di sebelah utara kota Purwokerto tepat di lereng sebelah selatan Gunung Slamet. Baturaden karena letaknya di lereng gunung menjadikan kawasan ini memiliki hawawisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal, terutama pada hari minggu dan hari libur nasional. Kondisi tersebut menyebabkan banyak hotel dan vila didirikan di sini. yang sejuk dan cenderung sangat dingin terutama di malam hari. Baturaden juga merupakan daerah

Baturaden dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Jarak dari kota Purwokerto sekitar 20 km dan dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dengan lalu lintas yang tidak terlalu padat. Apabila ingin menggunakan kendaraan umum wisatawan dapat naik angkutan kota dari terminal di Purwokerto dan turun di terminal lokawisata Baturaden. Jika ingin lebih praktis wisatawan dapat menggunakan taksi. Jika memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi, sebaiknya hati-hati karena jalan yang menanjak dengan kemiringan sekitar 30 derajat.

Lokasi wisata

  • Pancuran Pitu Baturaden
  • Pancuran Telu
  • Telaga Sunyi
  • Bumi Perkemahan
  • Pemandian Air Panas
  • Curug Ceheng
  • Wahana Wista Lembah Combong
  • Combong Valley Paint Ball and War Games
  • Kaloka Widya Mandala

Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden atau Wisata Pendidikan Wanasuka Baturraden merupakan kebun binatang sekaligus sebagai tempat wisata pendidikan yang diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyumas H. Djoko Sudantoko pada tanggal 17 mei 1995. Tempat ini pernah mendapatkan prestasi yaitu Visit Indonesia Dekade 1991-2000, Penobatan Anugerah Wisata Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Semarang pada tanggal 23 Agustus 1996.

Di Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden terdapat berbagai macam binatang yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri seperti ; Australia, Asia dan Belanda. Seperti : Sapi kaki lima, Kambing kaki tiga, Gajah, Beruk (Buing), Buaya Irian, Ular Sanca, Kaswari, Monyet, Landak, Iguana, Cendrawasih, Kelelawar, Ayam Kate, Ayam Mutiara, Orang Utan, Elang Bondol, Rusa.Di tempat ini juga terdapat Museum Satwa Langka, seperti: Harimau Sumatera, Beruang Madu, dan Macan Dahan. lihat di http://www.baturraden.com/ untuk informasi lebih lengkap tentang baturraden

SEJARAH BATURRADEN

Sejarah atau cerita yang berhubungan dengan nama Baturraden itu ada dua versi, yaitu versi Kadipaten Kutaliman dan versi Syekh Maulana Maghribi.

Baturraden berasal dari dua kata yaitu ‘Batur’ yang dalam bahasa Jawa berarti Pembantu, Teman, atau Bukit dan ‘Raden’ yang dalam bahasa juga berarti Bangsawan. Dilihat dari susunan kata-katanya, maka nama Baturraden terdiri dari kata :

a. Batur – Radin, yang artinya tanah datar

b. Batur – Adi, yang artinya tanah yang indah

Dua macam nama tersebut bukan sesuatu nama yang berdiri sendiri tanpa ada kaitannya dengan wilayah lain sepanjang lereng Gunung Slamet dari arah barat ke timur sampai Dieng plateau (dataran tinggi Dieng). Disekitar Baturraden juga terdapat beberapa nama diawali dengan kata ‘Batur’, seperti; Batur Agung, Batur Golek, Batur Semende, Batur Sengkala, Batur Macan, Batur Duwur, Batur Wadas Galengan dan Batur Begalan.

Versi Kadipaten Kutaliman

Pada Ratusan tahun silam konon terdapat sebuah Kadipaten ‘KUTALIMAN’ yang terletak 10 km disebelah Barat Baturraden. Adipatinya mempunyai beberapa anak perempuan dan seorang ‘gamel’ (pembantu yang menjaga kuda). Salah satu anak perempuannya jatuh cinta dengan gamel. Cinta mereka dilakukan secara sembunyi-sembuyi. Sesudah mendengar berita, bahwa anak perempuannya jatuh cinta dengan pembantunya, sang Adipati marah dan mengusir gamel dan anak perempuannya dari rumah. Diperjalanan dia melahirkan bayi didekat sungai, kemudian mereka menamakannya sungai ‘Kaliputra’. (Kali berarti Sungai dan Putra berarti anak laki-laki). Letaknya kira-kira tiga kilometer sebelah utara Kutaliman. Akhirnya mereka menemukan tempat yang indah dan memutuskan untuk tinggal di tempat yang sekarang dikenal dengan nama ‘Baturraden’. Berdasarkan versi pertama tersebut nama Baturaden seharusnya ditulis dengan dua ‘R’ karena versi tersebut berasal dari kata ‘Batur’ dan ‘Raden’ menjadi ‘BATURRADEN’.

Versi Syekh Maulana Maghribi

Konon di Negara Rum, bertahta seorang Pangeran bernama Syekh Maulana Maghribi berasal dari Turki yang memeluk agama Islam dan dia adalah seorang ulama. Pada waktu fajar menyingsing, setelah beliau melakukan kewajibannya selaku orang muslim, terlihatlah oleh beliau cahaya terang misterius bersinar disebelah timur menjulang tinggi di angkasa. Terdorong oleh perasaan ingin mengetahui tempat darimana cahaya terang misterius itu datang dan makna dari cahaya terang tersebut, maka timbullah niat dan itikad yang kuat di dalam sanubarinya dan mencari tempat yang dimaksud. Seorang sahabatnya bernama Haji Datuk dipanggil dan diperintahkan supaya para hulubalang dan balatentaranya menyiapkan armada dengan segala perlengkapannya untuk berlayar menuju kearah datangnya cahaya misterius tersebut. Maka,berangkatlah si Pangeran bersama-sama dengan sahabatnya itu 298 (dengan dua ratus sembilan puluh delapan) orang pengikutnya mengarungi samudera menuju kearah terlihatnya cahaya itu memancar selama 40 malam.

Kemudian sampailah mereka di ujung timur sebuah pulau yang bernama dengan Pulau Jawa. Adapun tempat dimana mereka membuang sauh dewasa ini terkenal dengan nama Pantai Gresik. Meskipun mereka telah lama menempuh perjalanan penuh dengan berbagai kesulitan dan penderitaan serta menghadapi bermacam-macam marabahaya, mereka belum mencapai apa yang menjadi cita-cita atau tujuannya karena cahaya terang misterius tersebut tampak disebelah barat. Pada suatu waktu terlihat kembali cahaya terang yang sedang dicarinya itu disebelah barat dan mereka mengambil keputusan kembali karah barat dengan menempuh jalan di laut Jawa di pantai Pemalang Jawa Tangah, dimana mereka berlabuh sambil sekedar melepas lelah. Ditempat ini Syekh Maulana Maghribi meminta para armadanya untuk pulang ke negerinya, sedangkan Syekh Maulana Maghribi ditemani oleh Haji Datuk dan untuk sementara bermukim ditempat itu.

Karena mereka mempunyai kepercayan pada Yang Maha Pencipta, mereka dijiwai oleh kekuatan Gaib yang tiada kunjung padam dan berketetapan hati akan melanjutkan perjalanannya dengan jalan kaki menuju kearah Selatan sambil menyebarkan agama Islam. Dari Pemalang mereka menuju ke selatan menyusuri hutan belantara tanpa mengenal bahaya yang dihadapinya karena tertarik sinar cahaya misterius yang sekarang terlihat di Timur Laut. Berhubung jalur yang ditempuhnya itu meletihkan, maka mereka berhenti sejenak untuk melepaskan lelahnya sambil termenung merasakan kisah perjalanannya serta kewajibannya yang dibebankan diatas pundaknya untuk menyebarluaskan agama Islam. Tempat dimana mereka beristirahat dengan diliputi pikiran-pikiran (gagasan-gagasan) dan perasaan-perasaan yang memenuhi hati sanubarinya diberi nama ‘Paduraksa’ yang artinya bertengkar didalam kalbu atau rasa.

Dari tempat itu mereka meneruskan perjalanannya ke selatan lagi dan sampailah mereka di hutan belukar dan untuk melepaskan lelahnya mereka singgah diatas tonggak randu yang tumbang dan tempat tersebut mereka beri nama ‘Randudongkal’. Dari tempat peristirahatannya itu, cahaya terang masih kelihatan ada di timur laut, dan mereka meneruskan perjalanannya menuju arah cahaya tadi. Dan sebelum mereka sampai ketempat yang menjadi tujuannya mereka berhenti untuk beristirahat di dekat Sendang (kolam) untuk melakukan ibadah Sholat, dan sesudahnya tempat tersebut diberi nama ‘Belik’. Setelah melakukan Sholat, maka perjalanan diteruskan kearah timur dan sampailah disuatu tempat, dimana terdapat banyak batu-batuan dan di tempat tersebut mereka beristirahat lagi sambil memikirkan bagaimana cara mereka dapat menjangkau tempat kedudukan cahaya yang dicarinya, karena cahaya terang tersebut terlihat ada dipuncak Gunung. Tempat dimana mereka beristirahat dan terdapat banyak batu-batuan itu diberi nama ‘Watu Kumpul’.

Karena tekadnya yang kuat, pendakian itu dilakukan hingga akhirnya sampailah mereka di tempat yang dituju. Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya menjulang tinggi ke angkasa. Perlahan-lahan Syekh Maulana Maghribi dan Haji Datuk menuju mendekati tempat tersebut sambil mengucapkan salam ‘Assalamu’alaikum’, tetapi tidak dijawabnya oleh si petapa meskipun berulangkali diucapkan. Setelah ternyata salamnya tidak mendapat jawaban, maka Haji Datuk berkata pada Syekh Maulana Maghribi : ‘Kiranya pertapa itu adalah seorang Budha’. Mendengar perkataan tersebut, si petapa itu lalu menjawab : ‘Sesungguhnya saya ini adalah orang Budha yang Sakti’. Mendengar kata-kata sakti maka Syekh Maulana Maghribi meminta kepada pemeluk agama Budha tadi, bahwa beliau ingin melihat atau menyaksikan kesaktiannya,maka diambillah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat terbang di angkasa. Syekh Maulana Maghribi tergolong orang yang mempunyai kesaktian dan didorong oleh rasa ingin mengimbangi kemukjizatan si pertapa itu, lalu melepaskan bajunya dan dilemparkan keatas, ternyata baju tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa yang menandakan bahwa kesaktiannya lebih unggul dari kesaktian orang Budha itu,tetapi ia belum mau menyerah dan masih akan mempertontonkan lagi kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit. Melihat keadaan tersebut diatas Syekh Maulana Maghribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa agar ia mau mengambil telur itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh. Ternyata pertapa itu tidak sanggup melakukannya. Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukannya hal tersebut, maka Syekh Maulana Maghribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai dari bawah sampai selesai dengan tidak ada satupun yang jatuh.

Syekh Maulana Maghribi masih merasa belum puas dan masih meneruskan perjuangannya sekali lagi dengan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air sampai menjulng tinggi. Lalu, Syekh Maulana Maghribi berkata : ‘Ambillah periuk-periuk itu satu demi satu dari bawah tanpa ada yang berjatuhan’. Setelah ternyata tidak ada kesanggupan daari si pertapa, maka beliau sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir itu pecah dan airnya memancar kesegala penjuru.

Akhirnya si pertapa yang mengaku bernama ‘Jambu Karang’ (nama tersebut berasal dari pohon sandarannya, yaitu sebatang pohon jambu dimana disekelilingnya terdapat batu-batuan) menyerah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam. Janji tersebut diterima oleh Syekh Maulana Maghribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut dan kukunya dan selnjutnya dikubur di ‘Penungkulan’ (tempat dimana si pertapa menyerah kalah). Kemudian dilakukan upacara penyucian dengan air zam-zam yng dibawa oleh Haji Datuk dari Tanah Suci atas perintah Syekh Maulana Maghribi dengan mempergunakan tempat dari bambu (bumbung). Setelah upacara penyucian selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetap karena kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah sehingga air sisa tersebut berhamburan dan di tempat tersebut konon kabarnya menjadi mata air yng tidak mengenal kering dimusim kemarau.

Setelah pertapa disucikan menjadi pemeluk agama Islam, maka namanya diubah menjadi ‘Syekh Jambu Karang’. KemudianSyekh Jambu Karang akan mendapatkan wejangan (bai’at), beliau menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok untuk upacara bai’at tersebut yaitu diatas bukit ‘Kraton’. Sesaat setelah Syekh Jambu Karang menerima wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin ribut yang mengakibatkan pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya seperti sedang menghormati Gunung Kraton yaitu tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sedang memberikan wejangan (membai’at) Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim. Menurut hikayatnya, Syekh Jambu Karang mempunyai seorang putri bernama ‘Rubiah Bhakti’ yang dipersunting oleh Syekh Maulana Maghribi, setelah Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa. Setelah memperistrikan putri Syekh Jambu Karang, Syekh Maulana Maghribi berganti nama menjadi ‘Atas Angin’. Dari perkawinannya tersebut menurunkan lima orang putera dan puteri, yaitu :

1. Makdum Kusen (Makam di Rajawana)

2. Makdum Medem (Makam di Cirebon)

3. Makdum Umar (Makam diKarimun Jawa)

4. Makdum (yang menghilang atau murca)

5. Makdum Sekar (Makam di Gunung Jembangan)

Adapun Syekh Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan ditempat itu pula dan tempat pemakamannya disebut ‘Gunung Munggul’ (puncak yang tertinggi didaerah itu).

Syekh Maulana Maghribi yang terkenal dengan ‘Mbah Atas Angin’ selama empat puluh lima tahun bermukim disuatu tempat atau pedukuhan yang bernama ‘Banjar Cahayana’ (mungkin tempat tersebut didiami setelah menemukan cahayanya). Di tempat tersebut Mbah Atas Angin menderita penyakit gatal-gatal yang susah disembuhkan. Hal ini menimbulkan keprihatinan disertai dengan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya diberi rahmat serta berkah terhindar dari penyakitnya itu.

Sesudah sholat Tahajud.dia mendapat Ilham bahwa dia harus pergi ke Gunung ‘Gora’‘Pancuran Pitu’ yang artinya sebuah sumber air panas yang mempunyai tujuh mata air. Setiap hari Syekh Maulana Maghribi mandi secara teratur di tempat itu, dengan begitu dia sembuh dari penyakit gatalnya. Sesudahnya beliau memanjatkan do’a syukur kehadirat Illahi serta mengucap syukur bahwasanya ia telah dikaruniai sembuh dari sakitnya yang telah sangat lama dideritanya. Setelah ia kembali ketempat dimana Haji Datuk menunggu, ia berkata : Saksikanlah, saya sekarang telah sembuh dari sakitku dan telah terhindar dari penderitaan. Selanjutnya Dia mengganti nama Gunung Gora itu menjadi ‘Gunung Slamet’. Slamet dalam bahasa Jawa berarti aman. Selama Syekh Maulana Maghribi berobat di Pancuran Pitu, Haji Datuk tetap dan taat menunggu ditempat yang ditunjuk semula dan kepadanya diberi julukan ‘Haji Datuk Rusuladi’. Rusuladi artinya ‘Batur Yang Baik’ (Adi). Dan konon kabarnya tempat tersebut oleh penduduk sekitarnya hingga kini disebut dengan ‘BATURRADEN’. dimana ia akan mendapatkan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakitnya itu. Kemudian pagi-pagi waktu Shubuh Mbah Atas Angin bersama Haji Datuk pergi kearah barat dan pada siang hari sampailah mereka dilereng Gunung Gora. Sesudah sampai di lereng Gunung Gora beliau meminta Haji Datuk untuk meninggalkannya dan beristirahat sambil menunggu di tempat yang datar, sebab Mbah Atas Angin akan meneruskan perjalanannya kearah suatu tempat yang mengepulkan asap. Ternyata disitu ada sumber air panas dan Syekh Maulana Maghribi menyebutnya

Lokasi : Lokawisata Baturraden

Patung Lengger

Patung ini menggambarkan tarian Lengger yang dimainkan oleh penari perempuan penari laki-laki (kakang-mbekayu). Tarian ini umumnya dilakukan di atas panggung dan diiringi oleh alat musik calung.

Permainan Anak

Kereta Mini


Kolam Luncur


Komidi Putar


Mandi Bola


Kaloka Widya Mandala

Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden atau Wisata Pendidikan Wanasuka Baturraden merupakan kebun binatang sekaligus sebagai tempat wisata pendidikan yang diresmikan oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Banyumas H. Djoko Sudantoko pada tanggal 17 mei 1995. Tempat ini pernah mendapatkan prestasi yaitu Visit Indonesia Dekade 1991-2000, Penobatan Anugerah Wisata Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta di Semarang pada tanggal 23 Agustus 1996.

Di Taman Kaloka Widya Mandala Baturraden terdapat berbagai macam binatang yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri seperti ; Australia, Asia dan Belanda. Seperti : Sapi kaki lima, Kambing kaki tiga, Gajah, Beruk (Buing), Buaya Irian, Ular Sanca, Kaswari, Monyet, Landak, Iguana, Cendrawasih, Kelelawar, Ayam Kate, Ayam Mutiara, Orang Utan, Elang Bondol, Rusa.Di tempat ini juga terdapat Museum Satwa Langka, seperti: Harimau Sumatera, Beruang Madu, dan Macan Dahan.


Panggung Budaya Satria

Panggung ini merupakan tempat untuk mempertunjukkan kesenian-kesenian yang ada di Baturraden seperti musik, tari-tarian dan lain sebagainya.


Monumen 10

Monumen ini merupakan monumen untuk mengenang dan menghormati pengabdian dan pengorbanan sepuluh orang anggota Brigade XVII, yaitu : Darsono, Kusdarto, Utoyo, Abd. Mutholib, Djumerut, Mulyono, Sutoyo, Oloan Nasution, Kakeat Kusumo, dan Sukisno.


Air Terjun Sungai Gumawang

Air terjun ini terletak di lokawisata Baturraden yang bersumber dari gunung Slamet dihiasi dengan batu-batuan yang terkikis oleh air yang masih alami.


Taman Botani

Taman Botani yang terletak di lokawisata Baturraden merupakan tempat yang menyediakan aneka tanaman hias, tanaman bonsai, tanaman langka dengan harga yang terjangkau sebagai cenderamata bagi para wisatawan. Tanaman-tanaman tersebut, antara lain : Tanaman Havana, Daun Dewa, Brimulia, Keladi Tikus, Antarium Lipstik, Palem Paris, Lidah Gajah dan Widoro Laut.


Petilasan atau makam Baturraden

Petilasan ini terletak di lokawisata Baturraden yang merupakan peninggalan makam yang hingga sekarang dianggap keramat oleh masyarakat sekitar Baturraden.


Sepeda Air


Kolam Renang


Relief Kamandaka


Curug Gumawang


Patung Dewi Ciptoroso dan Prabu Pulebahas

Lokasi : Sebelah Timur Lokawisata Baturraden

Telaga Sunyi

Telaga sunyi terletak kurang lebih 3,5 km di sebelah timur lokawisata Baturraden. Tempat rekreasi ini menyajikan telaga yang indah, berair dingin dan sangat jernih. Pada musim-musim tertentu dapat dijumpai aneka warna kupu-kupu dan capung yang beterbangan disekitar telaga.


Bumi Perkemahan (Bumper)

Bumi perkemahan termasuk kawasan wanawisata yang terletak 2 km dari lokawisata Baturraden. Wanawisata merupakan sebuah lokasi wisata yang menyajikan pemandangan indah hutan hijau yang cukup lebat. Tempat ini merupakan tempat yang angat cocok untuk kegiatan berkemah dan jungle tracking, juga dapat dinikmati keindahan alam hutan dilengkapi dengan tempat perkemahan yang dapat menampung 1000 tenda. Di tempat ini juga terdapat cagar alam dan pembibitan tanaman produksi seperti cemara, pinus dan lain sebagainya.


Lokasi : Sebelah Utara Lokawisata Baturraden

Pancuran Pitu

Terletak 2,5 km dari lokawisata Baturraden. Pancuran Pitu atau Pancuran Tujuh merupakan sumber air panas bumi dengan temperatur 60°-70° C yang terpancar langsung dari kaki Gunung Slamet yang keluar melalui tujuh pancuran mengalir di hamparan luas membentuk tebing belerang dengan warna keemasan sampai ke Goa Sarabadak.


Goa Sarabadak

Wisatawan dapat menikmati kesegaran air hangat dan dingin yaitu di Goa Sarabadak, dengan bebatuan warna keemasan yang menakjubkan. Goa ini merupakan pertemuan air dingin dan panas yang terletak sebelah selatan pancuran pitu


Pancuran Telu

Pancuran Telu diresmikan pada tanggal 18 Januari 1987. Pancuran ini merupakan sumber air panas yang mengandung belerang dengan suhu 40° C. Selain kehangatannya juga khasiatnya untuk mengatasi berbagai penyakit kulit dan tulang.


Panembahan atau Petilasan Mbah Tapa Angin

Petilasan ini merupakan peninggalan Mbah Tapa Angin yang terletak di lereng Gunung Slamet berdekatan dengan Pancuran Telu, yang dianggap keramat oleh masyarakat dengan suatu bukti bahwa orang-orang dari daerah tertentu pada malam Selasa Kliwon dan Jum’at Kliwon berziarah ketempat tersebut dan yang lebih uniknya lagi yaitu setiap pengantin dari daerah utara dengan masih berpakaian pengantin lengkap melangsungkan pesiarnya di Baturraden (Kirab).


Kolam Mandi Rendam

Lokasinya berdekatan dengan Pancuran Telu, maka kolam ini juga merupakan sumber air panas yang mengandung belerang dengan kedalaman 50 centimeter.


Lokasi : Sebelah Barat Lokawisata Baturraden


Curug Gede

Terletak di desa wisata Ketenger, kurang lebih 3 km dari lokawisata Baturraden. Ditempat ini wisatawan dapat menikmati air terjun dengan keindahan alam dan lempengan batu.


Bendung DAM

Letaknya di desa wisata Ketenger berdekatan dengan Curug Gede. Bendung DAM Jepang dibangun pada tahun 1943 dan direnovasi pada tahun 1999.

PAKET WISATA

Paket wisata merupakan jenis wisata yang berada di Baturraden yang dikelola oleh , PT. Perhutani Alam Wisata (PALAWI), Unit kerja Baturraden yang beralamat di Jalan Bumi Perkemahan Baturraden, Kemutug Lor, Baturraden, Kabupaten Banyumas.

Paket wisata tersebut, antara lain :

1.Wisata Budaya

Baturraden merupakan pusat kebudayaan masyarakat Banyumas dengan keragamannya. Wisata Budaya itu antara lain : Grebeg Suran, Kenthongan dan lain sebagainya.
2.Agro Wisata Serang

Agro Wisata Serang merupakan wisata pertanian yang terletak di sebelah timur lokawisata Baturraden. Agro wisata serang merupakan alternatif berwisata bagi para wisatawan seperti : budi daya strawberry, budi daya lobak dan budi daya buah belimbing.
3. Wisata Pedesaan

Di tempat ini wisatawan diajak berjalan menelusuri jalan setapak untuk menikmati indahnya alam pedesaan dengan semua aktifitas yang masih alami dengan menginap di rumah asli Banyumasan, seperti : kesenian tradisional di desa Ketenger, menyadap nira, memanen dan lain sebagainya.
4. Wisata Pendidikan

Wisata ini merupakan pengenalan lingkungan di wilayah kawasan wanawisata Baturraden. Wisatawan ikut serta dalam pembelajaran secara langsung di bidang peternakan seperti : budi daya sapi perah, membajak sawah, menggembala bebek dan perkebunan.
5. Paket Outbond

PT. PALAWI Unit kerja Baturraden saat ini menyediakan fasilitas Outbond Training and Service yang berada di kawasan wanawisata Baturraden. Kegiatan tersebut dibawah bimbingan instruktur yang berpengalaman dalam dan luar negeri dengan fasilitas yang memadai serta lokasi alam yang terbuka yang menantang menjadikan Wanawisata Outbond Centre and Service pilihan yng tepat untuk kegiatan Outbond.

Kegiatan ini tersedia berbagai pilihan yang meliputi :

a. Outbond Kids, seperti : Flying Fox, Two Line Bridge
b. Fun Games, seperti : Every Body Up, Trust Fall, Sherpa Walk, Flying Fox, Raft Building, Stepping Stone, Tower Building, The Meuze, dan Menggapai Bintang.
c. Outing
d. Family Gathering
e. Total Outbond
6.

Paket Tracking


Paket Tracking sangat cocok bagi wisatawan yang senang berpetualang menikmati keindahan alam.

SENI DAN BUDAYA DI BATURRADEN

Grebeg Syura atau Sedekah Bumi

Upacara Suran yaitu upacara tradisional sedekah bumi yang dilaksanakan pada tanggal 9 Bulan Syura untuk tujuan Tolak Bala dengan cara bermacam-macam seperti ruwat bumi, upacara selamatan dimakam leluhur dan lain-lain. Biasanya didahului dengan prosesi kirap hasil bumi berupa ketela pohon, padi, jagung, dan lain-lain, dilengkapi pula dengan tumpeng Panca Warna, Sanggabuana, Robyong dan Kuat, setelah tumpeng dikepung (makan bersama).


Kenthongan

Kenthongan merupakan kesenian musik khas Banyumas yang tersebar di hampir seluruh pelosok daerah. Kenthongan atau tek-tek adalah alat musik yang terbuat dari bambu. Kenthong adalah alat utamanya, berupa potongan bambu yang diberi lubang memanjang disisinya dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat kayu pendek. Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang dan dilengkapi dengan bedug, seruling, kecrek dan dipimpin oleh mayoret. Dalam satu grup kenthongan, Kenthong yang dipakai ada beberapa macam sehingga menghasilkan bunyi yang selaras.


Calung dan Lengger

Calung adalah alat musik yang terbuat dari potongan bambu yang diletakkan melintang dan dimainkan dengan cara dipukul, terdiri atas gambang barung, gambang penerus, dhendhem, kenong, gong dan kendang. Lengger merupakan tarian yang dimainkan oleh dua orang perempuan atau lebih yang diiringi oleh calung. Di tengah-tengah pertunjukkan hadir seorang penari laki-laki disebut badhud (badut/bodor)


Pakaian Adat Banyumas

Banyumas memiliki pakaian tradisional yang sangat khas. Pada kalangan wong cilik di jumpai pakaian seperti lancingan, bebed wala, pinjungan, iketan, nempean dan lain-lain. Adapun pada kalangan priyayi dijumpai pakaian Beskap untuk kaum Pria sedangkan Nyamping untuk kaum Wanita.


Pameran Tanaman Hias

Pameran ini merupakan pameran tambahan yang diadakan di taman wisata Baturraden karena waktu pelaksanaan tidak tertentu. Pameran tanaman hias dengan bermacam-macam jenis tanaman, seperti tanaman Havana, daun Dewa, Palem Paris dan lain sebagainya.


Ebeg (Kuda Lumping)

Ebeg adalah bentuk tari tradisional khas Banyumas dengan properti utama berupa ebeg atau kuda kepang. Kesenian ini menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya dan dibawakan oleh 8 penari pria. Dalam pertunjukkannya ebeg diiringi oleh gamelan yang disebut bendhe.


Sadranan

Sadranan yaitu prosesi bersih kuburan yang dilanjutkan dengan kenduren. Sadranan adalah suatu bentuk upacara mengenang arwah leluhur dengan cara membersihkan makamnya menjelang pelaksanaan puasa di Bulan Ramadhan. Di Baturraden kegiatan tersebut biasanya dilakukan di makam Petilasan.